RSS

Tag Archives: budidaya jeruk purut

Sedapnya Bisnis Jeruk Purut, Sesedap Aromanya

Jika ada buah yang bentuknya tidak cakep –ini istilah saya aja sih-, namun banyak dicari oleh ibu-ibu untuk keperluan perbumbuan di dapur, Jeruk Purut mungkin salah satu jawabnya. Seperti yang kita ketahui bersama, Jeruk Purut banyak digunakan untuk bumbu dapur baik itu buahnya ataupun daunnya.

Berdasarkan informasi yang ada, salah satu daerah sentra Jeruk Purut Indonesia adalah di Kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini terletak 154 km barat daya Kota Surabaya, dengan luas 1.055,65 km2 yang terbagi dalam 19 kecamatan dengan 271 desa/kelurahan. Kecamatan yang terkenal dengan Jeruk Purut ada 3 yaitu kecamatan Ngunut, kecamatan Sumbergempol dan kecamatan Rejotangan. Jumlah petani Jeruk Purut dalam satu kecamatan mencapai ribuan, yang menunjukkan bahwa usaha ini sudah merakyat.

Pak Wawan (37 tahun), mantri kecamatan Sumbergempol adalah salah satu contoh petani sukses Jeruk Purut yang keluarganya sudah menggeluti usaha ini sejak 25 tahun yang lalu. Lahan pribadi yang dimiliki sekarang ini sekitar 1 Ha. Dengan luas 1 Ha ini, setiap tahun minimal panen 10 ton daun Jeruk Purut. Panen dilakukan tiap 6 bulan sekali. Dan harga yang kompetitif dalam 3 tahun ini membuat para petani Jeruk Purut mampu tersenyum lebar. Harga daun Jeruk Purut Rp 17.000,-/kg dan batangnya pun dihargai Rp 1.000,-/kg untuk disuling. Sedangkan untuk buah dihargai Rp 10.000,-/kg. Sehingga petani memilih menjual daun dan batangnya.

Dengan biaya produksi Rp 30 juta per tahun dan penjualan Rp 170 Juta per tahun, Pak Wawan mampu meraup keuntungan bersih Rp 140 juta belum ditambah penjualan dari batang untuk minyak atsiri. Sehingga tidak heran dengan keuntungan sebesar itu pak Wawan dan istri sudah siap berangkat haji. Sehingga dijuluki “Haji Jeruk Purut”.

Bibit Jeruk Purut diusahakan sendiri dengan ditanam di langsung di lahan, tidak menggunakan polibag, karena menurut pengalaman, bibit dari polibag tumbuh kurang optimal tidak mampu beradaptasi dengan baik sehingga daun tidak lebat dan batang kerdil.

Budidaya dilakukan dengan semi organik. Perawatan dengan NPK, pestisida dan pupuk daun-daunan. Pupuk yang digunakan adalah NPK Pelangi dan Ponska dimana menyebabkan daun lebih tebal dibanding Urea. Pemupukan dilakukan 4 bulan sekali. Penyiraman dilakukan dengan menggenangi areal tanaman. Batang bawah yang ada, berusia 20 tahun lebih, yaitu JC. Penyakit yang sering dijumpai adalah jamur/blendok dan hama ulat dan serangga.

Panen dilakukan 4-6 bulan sekali. Jika harga tidak begitu bagus, panen dapat ditunda maksimal selama 2 bulan. Hasil panen dijual melalui pengepul dan didistribusikan ke kota-kota besar seperti Jakarta (tujuan utama), Surabaya dan Bali.

Sumber : Balitjestro (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika)

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Artikel

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.