RSS

Menyulap Gurun Pasir Menjadi Kebun Semangka

Angin kering bertiup kencang membawa debu, membuat mata harus menyipit. Hawa dingin menusuk tulang sehingga jaket tebal harus dikancing kuat. Begitulah suasana di lantai dua yang terbuka di sebuah bangunan di Liangtian, sekitar 16 km dari Yinchuan.

Yinchuan adalah ibukota Ningxia Hui, daerah otonomi yang berpenduduk etnis minoritas, di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) alias China. Ningxia Hui bisa dicapai 2 jam naik pesawat terbang dari Beijing. Kawasan otonom ini memiliki luas 66.400 meter persegi, dihuni 35 etnis dengan total penduduk 6,32 juta. Sebanyak 2,3 juta di antaranya adalah suku Hui yang beragama Islam.

Dahulu, Liangtian merupakan gurun pasir yang mengancam kelestarian lingkungan. Kawasan itu termasuk 60 persen gurun pasir atau yang mirip dengan gurun pasir di Ningxia, yang tidak menawarkan kehidupan. Tapi berkat kerja keras selama 20 tahun, Liangtian berhasil disulap menjadi perkebunan semangka dan sayuran dan membuat petaninya kaya raya.

Alkisah, daerah yang bercuaca -8 Celcius pada bulan Januari itu memiliki deretan pegunungan di daerah selatan. Tempat itu mayoritas dihuni suku Hui, bercuaca dingin yang ekstrem, miskin, kekurangan air dan sarana transportasi minus. “Kawasan itu tidak cocok dihuni manusia,” ujar Wan Jinyan, Direktur Pusat Pelayanan Perluasan Teknologi Pertanian setempat.

Di satu sisi, pemerintah Ningxia tengah berusaha menahan laju ekspansi gurun pasir di Liangtian. Caranya adalah menghijaukan kawasan itu menjadi lahan pertanian. “Saat itu daerah itu tidak ada yang meninggali, bahkan tidak bernama,” kata Wakil Dirjen Hubungan Luar Negeri Ningxia Hui, Zhang Yexing, di tempat terpisah.

Zhang dan Wan bercerita kepada rombongan wartawan dari detikcom, TVRI, The Jakarta Post, LKBN Antara, dan Kompas, Kamis (14/3/2012). Rombongan jurnalis ini diundang oleh Kementerian Luar Negeri China untuk pre-visit menyambut kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Beijing yang ditunggu-tunggu pada 22-24 Maret 2012.

Bukan perkara mudah mentransmigrasikan penduduk kawasan selatan yang kekurangan itu ke kawasan baru. “Siapa sih yang mau meninggalkan kampung halaman?” kata Wan.

Awalnya, dalam satu keluarga, hanya 1 orang yang pindah. Mereka bersedia pindah karena di kampung asalnya tidak bisa hidup berkecukupan. Setiba di Liangtian, mereka mendapat pendampingan bercocok tanam. Bahkan bertanam di musim dingin. Selama ini, petani menganggap tidak mungkin bertani di musim dingin. Padahal musim dingin di Ningxia sangat lama, mencapai 6 bulan. Karena tak ada pekerjaan di musim dingin, mereka menjadi miskin dan terjadi banyak kasus pencurian. “Bahkan ada yang mencuri sepeda, lalu sepedanya disembunyikan di pasir,” cerita Zhang, mengingat masa susah dulu.

Setelah ada anggota keluarga yang sukses berladang di Liangtian, berangsur-angsur anggota keluarga lainnya bersedia pindah ke lahan baru itu.

Menurut Zhang, untuk bercocok tanam di musim dingin, pemerintah lokal membuat instruksi khusus. “Karena negara ini dipimpin Partai Komunis, maka anggota Partai Komunis harus memberi contoh lebih dulu bercocok tanam di musim dingin. Setelah mereka berhasil, diikuti yang lain,” ujarnya.

Kebijakan itu terbukti manjur. “Sekarang di musim dingin, petani sudah ada pekerjaan. Stabilitas terjaga,” ujar Zhang yang murah senyum ini.

Meski petani telah mendukung program pemerintah itu, bukan berarti masalah telah tuntas. Hambatan teknologi dan dana masih menghantui. Alhasil, pemerintah memberi subsidi untuk pendidikan dan pendampingan teknis kepada petani sehingga sukses seperti saat ini.

Wan adalah salah satu ahli pertanian yang turut menyulap gurun pasir Liangtian menjadi lahan pertanian berteknologi tinggi. Usai mengajak wartawan ke lantai 2 kantornya yang terbuka sehingga angin kering berdebu seolah siap merobohkan badan, perempuan tersebut membawa rombongan ke lantai dasar. Di situ terdapat ruangan dengan jajaran meja lengkap dengan belasan komputer di atasnya. Di situlah Wan dkk membina para petani transmigran. Di ruang sebelah, terdapat perpustakaan mini.

Lantas Wan membawa rombongan ke unit kebun percontohan. Luasnya 15×60 hingga 80 meter. Unit itu berupa “bangunan” berbentuk memanjang yang diselimuti oleh plastik tebal yang menutupi kerangka kawat dan dikelilingi dinding tanah. Bila suhu di luar dingin menggigil, berbeda dengan kondisi di unit itu. Karena tertutup rapat dengan sistem pemanas alamiah, maka hawa panas terasa menyengat. Beberapa menit di situ, mantel tebal harus segera dilepas. Keringat menetes di dahi dan badan.

“Sistem ini membuat kami bisa menanam sayuran dan buah-buahan yang biasa hidup di musim panas pada musim dingin seperti saat ini,” kata Wan yang menjelaskan dengan penuh semangat. Di unit itu, tanaman semangka sedang menjalar tinggi. Buncis tumbuh di sela-selanya. Oh, rupanya sistem tumpang sari juga digunakan di lahan itu.

Suhu di ladang itu harus dijaga agar tetap hangat. Caranya, bila malam tiba, ladang berbentuk mirip kapsul itu harus diselimuti rapat dengan terpal yang terbuat dari karpet atau jahitan jerami. Bila siang tiba, selimut itu dibuka karena cahaya matahari cukup menghangatkan kapsul.

Di dalam ladang kapsul itu, terdapat alat-alat canggih seperti alat pemonitor suhu dan kelembaban, saluran irigasi yang langsung tertuju ke akar tanaman, bahkan ada CCTV untuk memonitor pergerakan tanaman sebagai bahan studi.

Nah, setiap keluarga transmigran mendapatkan satu unit ladang berbentuk mirip kapsul itu. Hanya saja luasnya lebih sempit yaitu 8 x 60 hingga 80 meter. Meski tidak terlalu luas, namun hasil panennya luar biasa. Dalam setahun, bisa 3 kali panen yaitu 2 kali panen semangka dan 1 kali sayur. Untuk semangka, biasa menghasilkan 3.600 kg/panen, sedang sayuran, tomat, misalnya 10.000 kg. Wow, luar biasa bukan?

Tak cuma dalam segi teknis penanaman saja, petani transmigran juga mendapatkan bantuan pemasaran produknya lewat koperasi. ”Setelah berusaha 20 tahun, kebijakan ini bisa dianggap sukses dan sekarang menjadi industri utama di sini, pendapatan petani meningkat. Warga yang dulunya miskin dan banyak pencuri, sekarang tidak ada pencuri lagi,” kata Zhang. Selama 20 tahun berproses, sebanyak 24 ribu petani miskin berhasil dimigrasikan dan setiap tahun 2.000 petani berpindah ke tempat baru itu.

Zhang menuturkan, pembangunan kawasan pertanian itu juga menyelesaikan masalah ancaman gurun pasir terhadap ibukota Yinchuan. “Pencegahan perluasan gurun pasir itu mencerminkan semangat kami menanggulangi ancaman alam,” papar Zhang.

Gurun pasir memang berbahaya. Zhang mencontohkan gurun Sahara di Afrika yang mencapai 9 juta meter persegi, atau nyaris seluas China. Gurun itu mendatangkan angin kencang dan debu yang bertiup hingga Asia dan Eropa.

Dan berkat penghijauan gurun pasir di Ningxia, gurun pasir dan yang mirip dengannya, berkurang dari 60 persen menjadi 40 persen saja. “Gurun pasir akan meluas, tapi kalau diolah akan menjadi keindahan atau daya tarik tersendiri,” ujarnya. Saat ini, proyek menyulap gurun pasir menjadi perkampungan petani transmigrasi tersebut jadi contoh negara-negara lain dan mendapat penghargaan PBB.

Pemerintah Ningxia telah merilis program baru yaitu dalam 5 tahun memindahkan 360 ribu warga dari pegunungan ke tempat baru tersebut. “Pemerintah yang tidak bisa membuat warga miskin jadi kaya adalah pemerintah yang gagal. Sebab kemiskinan bisa mengancam negara,” ujar Zhang.

Sumber : detik.com

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Artikel

 

Tags: ,

Sedapnya Bisnis Jeruk Purut, Sesedap Aromanya

Jika ada buah yang bentuknya tidak cakep –ini istilah saya aja sih-, namun banyak dicari oleh ibu-ibu untuk keperluan perbumbuan di dapur, Jeruk Purut mungkin salah satu jawabnya. Seperti yang kita ketahui bersama, Jeruk Purut banyak digunakan untuk bumbu dapur baik itu buahnya ataupun daunnya.

Berdasarkan informasi yang ada, salah satu daerah sentra Jeruk Purut Indonesia adalah di Kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulungagung adalah salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini terletak 154 km barat daya Kota Surabaya, dengan luas 1.055,65 km2 yang terbagi dalam 19 kecamatan dengan 271 desa/kelurahan. Kecamatan yang terkenal dengan Jeruk Purut ada 3 yaitu kecamatan Ngunut, kecamatan Sumbergempol dan kecamatan Rejotangan. Jumlah petani Jeruk Purut dalam satu kecamatan mencapai ribuan, yang menunjukkan bahwa usaha ini sudah merakyat.

Pak Wawan (37 tahun), mantri kecamatan Sumbergempol adalah salah satu contoh petani sukses Jeruk Purut yang keluarganya sudah menggeluti usaha ini sejak 25 tahun yang lalu. Lahan pribadi yang dimiliki sekarang ini sekitar 1 Ha. Dengan luas 1 Ha ini, setiap tahun minimal panen 10 ton daun Jeruk Purut. Panen dilakukan tiap 6 bulan sekali. Dan harga yang kompetitif dalam 3 tahun ini membuat para petani Jeruk Purut mampu tersenyum lebar. Harga daun Jeruk Purut Rp 17.000,-/kg dan batangnya pun dihargai Rp 1.000,-/kg untuk disuling. Sedangkan untuk buah dihargai Rp 10.000,-/kg. Sehingga petani memilih menjual daun dan batangnya.

Dengan biaya produksi Rp 30 juta per tahun dan penjualan Rp 170 Juta per tahun, Pak Wawan mampu meraup keuntungan bersih Rp 140 juta belum ditambah penjualan dari batang untuk minyak atsiri. Sehingga tidak heran dengan keuntungan sebesar itu pak Wawan dan istri sudah siap berangkat haji. Sehingga dijuluki “Haji Jeruk Purut”.

Bibit Jeruk Purut diusahakan sendiri dengan ditanam di langsung di lahan, tidak menggunakan polibag, karena menurut pengalaman, bibit dari polibag tumbuh kurang optimal tidak mampu beradaptasi dengan baik sehingga daun tidak lebat dan batang kerdil.

Budidaya dilakukan dengan semi organik. Perawatan dengan NPK, pestisida dan pupuk daun-daunan. Pupuk yang digunakan adalah NPK Pelangi dan Ponska dimana menyebabkan daun lebih tebal dibanding Urea. Pemupukan dilakukan 4 bulan sekali. Penyiraman dilakukan dengan menggenangi areal tanaman. Batang bawah yang ada, berusia 20 tahun lebih, yaitu JC. Penyakit yang sering dijumpai adalah jamur/blendok dan hama ulat dan serangga.

Panen dilakukan 4-6 bulan sekali. Jika harga tidak begitu bagus, panen dapat ditunda maksimal selama 2 bulan. Hasil panen dijual melalui pengepul dan didistribusikan ke kota-kota besar seperti Jakarta (tujuan utama), Surabaya dan Bali.

Sumber : Balitjestro (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika)

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Artikel

 

Tags: , ,

Ihau, Mata Kucing dari Kalimantan Timur

Ketika pertama lihat buah ini dulu, tidak ada rasa tertarik saya untuk membelinya. Walaupun sebenarnya saya tidak tau jenis buah yang cukup aneh ini. Kenapa saya bilang aneh, karena penampakan seperti lengkeng namun kulitnya yang berbintik-bintik kasar.

Entah kenapa, dua hari yang lalu pas saya melihat buah ini dijajakan di pinggir jalan, saya langsung aja mampir dan berniat untuk membelinya.

“Ini namanya buah apa Pak..? “,  tanya saya pada penjualnya.

“Ihau. Manis ini Pak.” jawab si Bapak.

“Boleh dicoba dulu Pak..”, pinta saya karena penasaran dengan rasa buah ini.

“Iya, coba aja dulu.”  sahut si penjual.

Saya ambil satu biji dan mulai mengupasnya. Bentuknya mirip lengkeng dengan tekstur kulit yang kasar, buahnya memang manis tapi ada sedikit rasa masam, dikit.. banget. Bijinya besar, lebih besar dari biji lengkeng impor yang biasa dijual di pasar modern, mungkin lebih dari 50% isi buah, jadi sepertinya ada perasaan kurang puas untuk seorang penikmat lengkeng.

Tapi dari situ, terbersit ide untuk menggabungkan buah ini dengan lengkeng impor -mudah2an aja bisa kesampaian niatnya- dengan metode sambung ataupun okulasi.

“Minta 1 kg Pak.”, pinta saya pada penjualnya. “Sekilo berapa..? ”

“15 ribu Pak.” jawab penjualnya.

Akhirnya tanpa ditawar -karena memang sudah pengen beli-, saya pun membeli buah Ihau ini.

“ini ambilnya dari Melak ya Pak.” tanya saya. Melak ini adalah salah satu wilayah di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“iya.” jawab si Bapak.

Hari berlalu, hingga akhirnya karena penasaran saya pun gugling tentang buah ihau ini. Dari informasi yang ada, ternyata buah ihau ini masih satu jenis dengan lengkeng. Hanya karena lokasinya di Kalimantan Timur, oleh warga setempat sering dinamakan Ihau. Kalau di daerah Bulungan -ini adalah sebuah Kabupaten di daerah utara Kaltim- masyarakat biasa menamakannya Mata Kucing -karena isi buah dan bijinya mirip dengan mata kucing yang bersinar-, mirip dengan sebutan lengkeng oleh masyarakat di Riau.

Disebutkan pula bahwa buah Ihau ini sudah termasuk kategori buah langka, karena keberadaannya yang sudah sangat jarang. Hanya di hutan-hutan pedalaman Kalimantan saja yang masih ada, karena memang habitat aslinya disana. Namun seiring boomingnya usaha pertambangan batubara dan juga kelapa sawit di Kaltim, populasi pohon Ihau juga mulai berkurang. Beruntung masih ada petani di pinggiran kota Samarinda yang mau mengebunnkannya, tepatnya di kelurahan Lempake, kecamatan Samarinda Utara.

Kalau kita tidak berusaha untuk melestarikan buah-buahan lokal, siapa lagi yang akan melestarikannya. Bukan tidak mungkin jika nantinya kita hanya bisa impor buah, karena buah impor selalu lebih unggul mutunya dibanding buah lokal. Tetapi sekali lagi alhamdulillah kita memiliki IPB, yang dengan peneliti2nya selalu berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan varietas buah lokal maupun buah impor yang diadaptasikan dengan kondisi di Indonesia -melalui penggabungan dengan buah lokal-. Tengok saja Pepaya IPB9 -yang di pasaran sering disebut pepaya california-, Alpukat Miki Mentega, Nanas Mahkota, Pisang Rajabulu Kuning maupun Manggis Puspahiang.

Ayo kita cintai buah dalam negeri..!

Kalo sudah cinta, kita pasti ingin memperbaiki kekurangan yang ada pada apa yang kita cintai itu. ^_^

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2012 in Artikel

 

Tags: , , ,

Aside

Beberapa tahun belakangan ini, di Indonesia gencar digalakkan gerakan penanaman pohon.Mulai dari gerakan penanaman sejuta pohon, program One Man One Tree, One Man Five Tree, OBIT (Gerakan Tanam Semiliar Pohon) dan yang terakhir (baru tadi pagi diresmikan Bapak Presiden) yaitu Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara 2010. Khusus untuk gerakan yang baru diresmikan Bapak Presiden tadi pagi, patut kita acungi jempol. Mengapa?? Karena beberapa program sebelumnya kebanyakan hanya mengajak orang untuk menanam pohon saja, tanpa melihat bagaimana nanti memeliharanya.

Antusiasme yang cukup tinggi dari pemerintah, pihak swasta dan elemen masyarakat dalam menanam pohon patut kita syukuri. Sebagaimana pohon itu memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan di dunia ini, khususnya bagi kita manusia.

Beberapa keutamaan menanam pohon dapat kita  temui dalam hadits Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam diantaranya :

  1. “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Imam Bukhari dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Imam Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]
  2. “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” [HR. Imam Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]
  3. “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2078, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu)

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Aku telah memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab Syarh Al-Muhadzdzab. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin, dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya.” [Lihat Al-Minhaj (10/457) oleh An-Nawawiy, cet. Dar Al-Ma’rifah, 1420 H]

Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata, “Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat.” [Lihat Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (hal. 360) oleh Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H]

Ahli Hadits Abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah dari hadits-hadits di atas, “Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang mulia ini, terlebih lagi hadits yang terakhir di antaranya, karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai hari kiamat.” [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/1/38)]

Pahala sedekah yang dijanjikan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits ini akan diraih oleh orang yang menanam, walapun ia tidak meniatkan tanamannya yang diambil atau dirusak orang dan hewan sebagai sedekah.

Jadi, seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.

Sumber :

  1. http://www.dephut.go.id
  2. http://www.antaranews.com
  3. http://almakassari.com

Menanam Pohon Tak Pernah Rugi

 
Leave a comment

Posted by on November 23, 2010 in Artikel

 

Tags: , ,