RSS

Ihau, Mata Kucing dari Kalimantan Timur

23 Feb

Ketika pertama lihat buah ini dulu, tidak ada rasa tertarik saya untuk membelinya. Walaupun sebenarnya saya tidak tau jenis buah yang cukup aneh ini. Kenapa saya bilang aneh, karena penampakan seperti lengkeng namun kulitnya yang berbintik-bintik kasar.

Entah kenapa, dua hari yang lalu pas saya melihat buah ini dijajakan di pinggir jalan, saya langsung aja mampir dan berniat untuk membelinya.

“Ini namanya buah apa Pak..? “,  tanya saya pada penjualnya.

“Ihau. Manis ini Pak.” jawab si Bapak.

“Boleh dicoba dulu Pak..”, pinta saya karena penasaran dengan rasa buah ini.

“Iya, coba aja dulu.”  sahut si penjual.

Saya ambil satu biji dan mulai mengupasnya. Bentuknya mirip lengkeng dengan tekstur kulit yang kasar, buahnya memang manis tapi ada sedikit rasa masam, dikit.. banget. Bijinya besar, lebih besar dari biji lengkeng impor yang biasa dijual di pasar modern, mungkin lebih dari 50% isi buah, jadi sepertinya ada perasaan kurang puas untuk seorang penikmat lengkeng.

Tapi dari situ, terbersit ide untuk menggabungkan buah ini dengan lengkeng impor -mudah2an aja bisa kesampaian niatnya- dengan metode sambung ataupun okulasi.

“Minta 1 kg Pak.”, pinta saya pada penjualnya. “Sekilo berapa..? ”

“15 ribu Pak.” jawab penjualnya.

Akhirnya tanpa ditawar -karena memang sudah pengen beli-, saya pun membeli buah Ihau ini.

“ini ambilnya dari Melak ya Pak.” tanya saya. Melak ini adalah salah satu wilayah di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“iya.” jawab si Bapak.

Hari berlalu, hingga akhirnya karena penasaran saya pun gugling tentang buah ihau ini. Dari informasi yang ada, ternyata buah ihau ini masih satu jenis dengan lengkeng. Hanya karena lokasinya di Kalimantan Timur, oleh warga setempat sering dinamakan Ihau. Kalau di daerah Bulungan -ini adalah sebuah Kabupaten di daerah utara Kaltim- masyarakat biasa menamakannya Mata Kucing -karena isi buah dan bijinya mirip dengan mata kucing yang bersinar-, mirip dengan sebutan lengkeng oleh masyarakat di Riau.

Disebutkan pula bahwa buah Ihau ini sudah termasuk kategori buah langka, karena keberadaannya yang sudah sangat jarang. Hanya di hutan-hutan pedalaman Kalimantan saja yang masih ada, karena memang habitat aslinya disana. Namun seiring boomingnya usaha pertambangan batubara dan juga kelapa sawit di Kaltim, populasi pohon Ihau juga mulai berkurang. Beruntung masih ada petani di pinggiran kota Samarinda yang mau mengebunnkannya, tepatnya di kelurahan Lempake, kecamatan Samarinda Utara.

Kalau kita tidak berusaha untuk melestarikan buah-buahan lokal, siapa lagi yang akan melestarikannya. Bukan tidak mungkin jika nantinya kita hanya bisa impor buah, karena buah impor selalu lebih unggul mutunya dibanding buah lokal. Tetapi sekali lagi alhamdulillah kita memiliki IPB, yang dengan peneliti2nya selalu berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan varietas buah lokal maupun buah impor yang diadaptasikan dengan kondisi di Indonesia -melalui penggabungan dengan buah lokal-. Tengok saja Pepaya IPB9 -yang di pasaran sering disebut pepaya california-, Alpukat Miki Mentega, Nanas Mahkota, Pisang Rajabulu Kuning maupun Manggis Puspahiang.

Ayo kita cintai buah dalam negeri..!

Kalo sudah cinta, kita pasti ingin memperbaiki kekurangan yang ada pada apa yang kita cintai itu. ^_^

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2012 in Artikel

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: