RSS

Menyulap Gurun Pasir Menjadi Kebun Semangka

20 Mar

Angin kering bertiup kencang membawa debu, membuat mata harus menyipit. Hawa dingin menusuk tulang sehingga jaket tebal harus dikancing kuat. Begitulah suasana di lantai dua yang terbuka di sebuah bangunan di Liangtian, sekitar 16 km dari Yinchuan.

Yinchuan adalah ibukota Ningxia Hui, daerah otonomi yang berpenduduk etnis minoritas, di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) alias China. Ningxia Hui bisa dicapai 2 jam naik pesawat terbang dari Beijing. Kawasan otonom ini memiliki luas 66.400 meter persegi, dihuni 35 etnis dengan total penduduk 6,32 juta. Sebanyak 2,3 juta di antaranya adalah suku Hui yang beragama Islam.

Dahulu, Liangtian merupakan gurun pasir yang mengancam kelestarian lingkungan. Kawasan itu termasuk 60 persen gurun pasir atau yang mirip dengan gurun pasir di Ningxia, yang tidak menawarkan kehidupan. Tapi berkat kerja keras selama 20 tahun, Liangtian berhasil disulap menjadi perkebunan semangka dan sayuran dan membuat petaninya kaya raya.

Alkisah, daerah yang bercuaca -8 Celcius pada bulan Januari itu memiliki deretan pegunungan di daerah selatan. Tempat itu mayoritas dihuni suku Hui, bercuaca dingin yang ekstrem, miskin, kekurangan air dan sarana transportasi minus. “Kawasan itu tidak cocok dihuni manusia,” ujar Wan Jinyan, Direktur Pusat Pelayanan Perluasan Teknologi Pertanian setempat.

Di satu sisi, pemerintah Ningxia tengah berusaha menahan laju ekspansi gurun pasir di Liangtian. Caranya adalah menghijaukan kawasan itu menjadi lahan pertanian. “Saat itu daerah itu tidak ada yang meninggali, bahkan tidak bernama,” kata Wakil Dirjen Hubungan Luar Negeri Ningxia Hui, Zhang Yexing, di tempat terpisah.

Zhang dan Wan bercerita kepada rombongan wartawan dari detikcom, TVRI, The Jakarta Post, LKBN Antara, dan Kompas, Kamis (14/3/2012). Rombongan jurnalis ini diundang oleh Kementerian Luar Negeri China untuk pre-visit menyambut kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Beijing yang ditunggu-tunggu pada 22-24 Maret 2012.

Bukan perkara mudah mentransmigrasikan penduduk kawasan selatan yang kekurangan itu ke kawasan baru. “Siapa sih yang mau meninggalkan kampung halaman?” kata Wan.

Awalnya, dalam satu keluarga, hanya 1 orang yang pindah. Mereka bersedia pindah karena di kampung asalnya tidak bisa hidup berkecukupan. Setiba di Liangtian, mereka mendapat pendampingan bercocok tanam. Bahkan bertanam di musim dingin. Selama ini, petani menganggap tidak mungkin bertani di musim dingin. Padahal musim dingin di Ningxia sangat lama, mencapai 6 bulan. Karena tak ada pekerjaan di musim dingin, mereka menjadi miskin dan terjadi banyak kasus pencurian. “Bahkan ada yang mencuri sepeda, lalu sepedanya disembunyikan di pasir,” cerita Zhang, mengingat masa susah dulu.

Setelah ada anggota keluarga yang sukses berladang di Liangtian, berangsur-angsur anggota keluarga lainnya bersedia pindah ke lahan baru itu.

Menurut Zhang, untuk bercocok tanam di musim dingin, pemerintah lokal membuat instruksi khusus. “Karena negara ini dipimpin Partai Komunis, maka anggota Partai Komunis harus memberi contoh lebih dulu bercocok tanam di musim dingin. Setelah mereka berhasil, diikuti yang lain,” ujarnya.

Kebijakan itu terbukti manjur. “Sekarang di musim dingin, petani sudah ada pekerjaan. Stabilitas terjaga,” ujar Zhang yang murah senyum ini.

Meski petani telah mendukung program pemerintah itu, bukan berarti masalah telah tuntas. Hambatan teknologi dan dana masih menghantui. Alhasil, pemerintah memberi subsidi untuk pendidikan dan pendampingan teknis kepada petani sehingga sukses seperti saat ini.

Wan adalah salah satu ahli pertanian yang turut menyulap gurun pasir Liangtian menjadi lahan pertanian berteknologi tinggi. Usai mengajak wartawan ke lantai 2 kantornya yang terbuka sehingga angin kering berdebu seolah siap merobohkan badan, perempuan tersebut membawa rombongan ke lantai dasar. Di situ terdapat ruangan dengan jajaran meja lengkap dengan belasan komputer di atasnya. Di situlah Wan dkk membina para petani transmigran. Di ruang sebelah, terdapat perpustakaan mini.

Lantas Wan membawa rombongan ke unit kebun percontohan. Luasnya 15×60 hingga 80 meter. Unit itu berupa “bangunan” berbentuk memanjang yang diselimuti oleh plastik tebal yang menutupi kerangka kawat dan dikelilingi dinding tanah. Bila suhu di luar dingin menggigil, berbeda dengan kondisi di unit itu. Karena tertutup rapat dengan sistem pemanas alamiah, maka hawa panas terasa menyengat. Beberapa menit di situ, mantel tebal harus segera dilepas. Keringat menetes di dahi dan badan.

“Sistem ini membuat kami bisa menanam sayuran dan buah-buahan yang biasa hidup di musim panas pada musim dingin seperti saat ini,” kata Wan yang menjelaskan dengan penuh semangat. Di unit itu, tanaman semangka sedang menjalar tinggi. Buncis tumbuh di sela-selanya. Oh, rupanya sistem tumpang sari juga digunakan di lahan itu.

Suhu di ladang itu harus dijaga agar tetap hangat. Caranya, bila malam tiba, ladang berbentuk mirip kapsul itu harus diselimuti rapat dengan terpal yang terbuat dari karpet atau jahitan jerami. Bila siang tiba, selimut itu dibuka karena cahaya matahari cukup menghangatkan kapsul.

Di dalam ladang kapsul itu, terdapat alat-alat canggih seperti alat pemonitor suhu dan kelembaban, saluran irigasi yang langsung tertuju ke akar tanaman, bahkan ada CCTV untuk memonitor pergerakan tanaman sebagai bahan studi.

Nah, setiap keluarga transmigran mendapatkan satu unit ladang berbentuk mirip kapsul itu. Hanya saja luasnya lebih sempit yaitu 8 x 60 hingga 80 meter. Meski tidak terlalu luas, namun hasil panennya luar biasa. Dalam setahun, bisa 3 kali panen yaitu 2 kali panen semangka dan 1 kali sayur. Untuk semangka, biasa menghasilkan 3.600 kg/panen, sedang sayuran, tomat, misalnya 10.000 kg. Wow, luar biasa bukan?

Tak cuma dalam segi teknis penanaman saja, petani transmigran juga mendapatkan bantuan pemasaran produknya lewat koperasi. ”Setelah berusaha 20 tahun, kebijakan ini bisa dianggap sukses dan sekarang menjadi industri utama di sini, pendapatan petani meningkat. Warga yang dulunya miskin dan banyak pencuri, sekarang tidak ada pencuri lagi,” kata Zhang. Selama 20 tahun berproses, sebanyak 24 ribu petani miskin berhasil dimigrasikan dan setiap tahun 2.000 petani berpindah ke tempat baru itu.

Zhang menuturkan, pembangunan kawasan pertanian itu juga menyelesaikan masalah ancaman gurun pasir terhadap ibukota Yinchuan. “Pencegahan perluasan gurun pasir itu mencerminkan semangat kami menanggulangi ancaman alam,” papar Zhang.

Gurun pasir memang berbahaya. Zhang mencontohkan gurun Sahara di Afrika yang mencapai 9 juta meter persegi, atau nyaris seluas China. Gurun itu mendatangkan angin kencang dan debu yang bertiup hingga Asia dan Eropa.

Dan berkat penghijauan gurun pasir di Ningxia, gurun pasir dan yang mirip dengannya, berkurang dari 60 persen menjadi 40 persen saja. “Gurun pasir akan meluas, tapi kalau diolah akan menjadi keindahan atau daya tarik tersendiri,” ujarnya. Saat ini, proyek menyulap gurun pasir menjadi perkampungan petani transmigrasi tersebut jadi contoh negara-negara lain dan mendapat penghargaan PBB.

Pemerintah Ningxia telah merilis program baru yaitu dalam 5 tahun memindahkan 360 ribu warga dari pegunungan ke tempat baru tersebut. “Pemerintah yang tidak bisa membuat warga miskin jadi kaya adalah pemerintah yang gagal. Sebab kemiskinan bisa mengancam negara,” ujar Zhang.

Sumber : detik.com

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Artikel

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: